oleh:mas rizal
imanakah menghilang
Diriku sendiri
Hanyut dalam bayangan
Sebuah misteri
Harum tiada wajah
...Mengelilingi aku
Dalam suasana
Yang terharu
Lukisan impianku
Gambaran dimana
Cuaca yang begini
Apakah mahunya
Aku adalah aku
Nyanyi lagu yang rindu
Lemah langkahku mengejarmu
Bila pun engkau menjelma
Disini aku berdiri
Ku menanti
Walau hilang ceritamu
Di hati tetap abadi
lukisan rrindu
DARI HUTAN KE GEDUNG DEWAN
“ Dari Hutan Ke gedung Dewan”
Terik matahari tidak membuatku merasa lelah mencari tahu tentang laki-laki itu, sudah tiga kali aku menghubunginya, tapi ia tak pernah menyempatkan diri untuk bertemu. Tepat hari kamis 25 juni 2009 sekitar jam 12.00 aku coba mengirim pesan untuknya. Beberapa menit kemudian ia menyuruhku datang kesebuah kantor partai SIRA tepat didekat taman sari. Namun, disepanjang perjalanan menuju kekota aku sedikit merasa takut, diatas sepeda motor yang aku naiki, dan sebuah tinta hitam yang menari- nari diatas buku kecil yang berwarna biru ditanganku mencoba untuk merangkai sebuah pertanyaan. aku hadir begitu cepat. Kubuka kembali pesan yang ia kirim, hanya untuk memastikan ketepatan waktu untuk berjumpa dengannya. aku pun harus menunggu setengah jam lagi diliuar kantor yang dipenuhi sepeda motor dan beberapa mobil mewah serta sebuah stiker Partai SIRA yang ditempeli di bagian kaca belakangnya. Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu yang ditarik oleh seorang wanita yang berbadan tinggi dan bertubuh besar dengan mengenakan jilbab coklat yang menutupi dadanya yang keluar dari kantor tersebut. Dengan senyumnya yang ramah, menyuruh aku masuk kedalam tanpa menanyakan maksud dan tujuanku. aku pun hanya membalasnya dengan senyuman dan mengucapkan terima kasih pada wanita itu.
Saat kumelangkah ingin memasuki kantor partai SIRA, tiba-tiba laki-laki itu keluar dari ruang rapatnya. Menjabat tanganku dengan penuh rasa hormat, dengan gayanya yang penuh bijaksana ia langsung memperkenalkan dirinya padaku. ”dawan” nama singkat yang ia sebutkan, Aku agak sedikit gugup, ku coba menghilangkan rasa takut dalam diriku dan berusaha menjadi seorang yang penuh tanggung jawab saat itu.
Setelah duduk dimeja bundaran yang terletak dilantai dua, ia mencoba memastikan bahwa aku seorang wartawan. Kuberikan surat tugas dari sumberpost dan sebuah tipe recorder yang kuletakkan tiga puluh senti meter dari hadapnnya.
”Saya sudah ditempa sejak kecil untuk menghadapi berbagai kesulitan”,ujar laki-laki itu saat aku menanyai tentang kehidupannya dalam memperjuangkan gerakan Aceh Merdeka. Dengan suara yang rendah, sambil merebahkan badannya keatas kursi. dan menatap bunga yang ada di atas meja itu. Pada tahun 1986-1989 dawan pernah berbincang-bincang dengan beberapa petinggi GAM di jakarta. Kemudian dawan kembali pada tahun 1998 ke Kota Aceh. gerakan ini sudah mulai jelas arahnya, dan mulai berkembang dibeberapa wilayah didaerah Aceh ini.
Pada tahun 2001, beberapa anggota GAM sudah mulai berpisah. Masing-masing mempunyai tugas, Faujan Ajimis menjabat sebagai panglima GAM daerah Gayo dan dawan sendiri sebagi juru bicara militer di daerah linge. Dan tugas yang diberikan kepada dawanpun untuk menyampaikan informasi kepada kawan-kawan dilapangan serta mengorganisir masyarakat yang ada diwilayahnya. Dengan adanya dukungan oleh temannya dilapangan, ketika didaerahnya sudah tidak merasa aman, ia akhirnya pergi ke Jakarta dengan menggunakan nama sandi, agar tidak diketahui oleh masyarakat tentang keberadaanya. Dengan tujuan untuk menggali kekuatan kembali. Hanya dengan komunikasi ia dapat menghubungi teman-temanya.
Pada saat ia berada ditengah-tengah hutan Bener-Meriah, ia lari ke Kota Lhoksemawe di daerah Nisam. ia ditampung oleh teman-temannya disana. iapun berada dihutan dan masuk diperdalaman yang sangat jauh dari kota, dan menurut Dawan dalam kondisi berbahaya karena saat itu tidak terdapat sinyal Hp sehingga komunikasi mereka terputus. Dawan pun terus berusaha agar tetap berhati-hati. Dengan mangikuti perjalanan yang ada dihutan nisam, ia berjumpa dengan sejumlah Tim kerjanya. siangpun telah berlalu,malam yang dingin membuat perjalanan mereka terhenti di tengah-tengah hutan. ”Tidurpun tak pernah mengalaskan tikar, hanya berbantal rumput dan terpal. Itupun hanya beberapa jam saja dapat ku nikmati” kenang Dawan. Karena proses pengejaran terhadap mereka terus dilakukan. Dari tempat ketempat ia pergi, hingga kakinya pun terkena duri tak dapat ia rasakan lagi,ia terus berlari sampai batas yang dianggap nyaman baginnya.
Disaat berbagai tantangan yang ia tempuh, laki- laki yang kelahiran di pondok sayur, 15 okteber 1971 itupun merasakan sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya. Pada saat sekelompok orang tertindas atau teraniaya, disitulah timbul suatu keadailan, sama-sama merasakan sebuah penderitaan, tidak memakan sesuap nasi sudah terbiasa bagi dawan dan teman-temannya. Jikapun ada, maka dijadikan sebuah bubur untuk menikmatinya. Itulah suatu keindahan baginya. ia juga menyebutkan hal itu merupakan ”team a work” atau kerja sama tim.
Sudah beberapa bulan dawan berada dihutan Nisam. Akhirnya dawan kembali ke hutan tanoh Gayo, saat itu keinginan bertemu dengan orang tua sudah tidak dapat ia tahan lagi. Iapun mengatakan semua keluhannya kepada atasannya agar ia mendapat izin untuk keluar dari hutan tersebut. Namun, atasannya sama sekali tidak mengabulkan permintaan Dawan. Dengan alasan ia tidak menjamin keselamatan dawan jika menemui orang tuanya. Dan orang tua dawan juga akan menjadi ancaman besar untuk dijadikan bahan pembicaraan didalam masyarakat, karena keluarga dawan bisa terancam keselamatannya.
Arhama Dawan Gayo pun mengurungkan niat untuk menemui keluarganya. Padahal jarak dengan tempat persembunyian hanya satu kilo saja dari kampung tersebut. ”Resiko berperang menahan semua keinginan dan harus bisa menyelamatkan diri dari kondisi apapun.”itulah konsep seorang GAM” tegas atasannya Fauzan Ajimis sebagai panglima GAM saat mengkomando bawahannya.
Pada tanggal 15 Agustus 2006 Dawan ikut serta dalam proses penandatanganan MoU antara pemerintah indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka Yang disaksikan oleh lembaga-lembaga masyarakat, dan tokoh- tokoh terpenting dari berbagi negara.
Setelah penandatanganan perdamaian itu selesai, dawanpun tak pernah patah semangat untuk memperjuangkan nama baik keluarga dan namanya di tengah-tengah masyarakat gayo khusunya di daerah yang ia tinggali.
” Saya tidak mengharapkan apa- apa, tapi saya sudah mendapatkan segalanya”. Tangkas laki- laki itu sambil membaca pesan masuk dari hand phonenya. ”Saya sudah menikmati perdamaian ini sudah bersyukur”katanya lagi dengan menatap kedua bola mataku. Suatu kegembiraan yang mungkin tak bisa dilupakan Saat dawan menjumpai keluarga dan bisa menatap wajah ayah ibunya kembali. Dengan mata yang berbinar-binar ia mengucapkan kata ma’af berulang kali kepada kedua ibu bapakknya. Dengan penuh rasa kesabaran dan ketabahan, Dawanpu mendapatkan kepercayaan dari beberapa teman dan sebahagian anggota masyarakat di daerah pondok sayur agar dawan bisa mencalonkan diri sebagai anggota DPRA di aceh. Namun usahanya belum mencapai target yang diinginkan untuk untuk menduduki kursi Dewan saat itu.
Hal itu tak menjadikan dawan patah semangat. Dengan kendaraan yang beroda empat yang telah dihadiahkan padanya. Ia akan tetap bekerja keras untuk mempersiapkan diri menjadi caleg yang proaktif untuk kedepannya. Karena ia masih memperdulikan rakyat aceh yang menjadi korban konflik.ujarnya
dari barak ke barak
Tsunami telah berlalu. Kini hanya tinggal sebuah kenangan yang telah menjadi catatan sejarah masa lampau. Sejak tanggal 26 Desember 2004, gelombang tsunami datang menghantam meluluhlan lantahkan kota serambi mekah ini. Menghabiskan ribuan korban dan ratusan harta harta benda telah lenyap. Hal itupun menjadi sejarah yang bagi rakyat aceh. dan kini tengah memasuki tahun 2010. Tahun-tahun sebelumnya akan segera lenyap. Yang tak mungkin berputar kembali, kecuali dengan mngangkat sejarah yang ada.
Kini, banyak para korban tsunami yang mengenang lima tahun yang lalu. Seluruh masyarakat Aceh memanjatkan do’a untuk orang yang telah meninggal dunia. Tepat pada tanggal 26 desember 2009 sebelum memasuki tahun 2010. Semua masjid di seluruh penjuru kota banda Aceh di penuhi dengan orang-orang yang memakai seragam putih. Berzikir bersama ustad Arifin yang di undang dari kota Jakarta itu.namun siapa yang menduga, ternyata masih saja ada korban tsunami yang belum mendapatkan rumah bantuan dari BRR, untuk rakyat Aceh. terlihat masih asa di beberapa daerah pedalaman masyarakat yang mengongsi dan tinggal di barak-barak yang sama sekali tak layak untuk dihuni.
Pasca tsunami, selama lima tahun mereka mnempati barak-barak yang terlihat kumuh, dan sempit itu. bertahan untuk kelangsungan hidup. Terpaksa orang yang tidak mendapatka rumah bantuan tinggal di barak dan di tenda-tenda pengongsian.
“hampir lima tahun saya berada di barak ini. Tak sedikitpun pemerintah Aceh merasa kasihan kepada kami, rasanya ingin segera pergi dari barak yang penuh derita ini, tapi rumah saya masih belum ada”. Ujar ibu hamidah yang berusi lima puluh tahun itu. dan kini telah menjadi janda akibat suaminya telah hilang di tlan ombak. Dengan raut wajah ibu hamidah yang mengaharapkan belai kasihan, tapi ia mencoba tetap bertahan sampai ada orang yang memperdulikan kondisinya.
Sama halnya seperti yang dirasakan ibu suarni 30 thn. Yang duduk masih dua tahun di barak bakau itu, meskipun dikatakan waktunya masih singkat, bila dibandingkan dengan orang-orang yang telah dahulu menduduki barak itu, ia tetap merasa sangat susah dan tidak nyaman bersama anaknya yang masih balita itu.
“pasca tsunami, awalnya saya mengungsi di gedung social, selama dua bulan. Menjaga anak saya yang masih kecil-kecil. Setelah itu, saya pindah lagi ke ulee kareung dan ditempatkan bersama korban tsunami lainnya. Dan pada tahun 2008 baru saya pindah kebarak ini, yang mungkin masih lumayan bila dibandingkan tinggal di tenda-tnda yang hanya mengalaskan tikar”. Kenangnya sembari mengeluarkan air mata di raut wajahnya yang berkulit saoh matang itu.
rumah tangga yang mengibas-ngibas pakaiannya di jemuran setelah selesai mencuci di kamar mandi terbuka untuk umum. air bersih yang warga barak bakau dapatkan berupa sejenis air PAM, berwarna biru besar, dan melambangkan tulisan FROM UNICEF. Tawa merekapun masih terlihat di wajahnya. Sebahagian dari mereka menikmati suasana seperit itu dengan indah.
“ sejauh manapun tingkat kejelian seorang mendata korban tsunami dan korban konflik, juga tidak bisa disalahkan. Karena banyak warga barak bakau yang menggangap dirinya sebagai korban tsunami, padahal hanya ingin mendapt rumah bantuan saja”. Tambah nurdin m. sari sebagai ketua pemuda di barak bakau tersebut.
“ hidup serba susah, jangankan untuk mencari rizki, mndapatkan air bersih untuk membuat kamar mandi sendiri saja sangat susah. Jika milik umum susah warganya untuk di atur”. Hampir beberapa ibu rumah tangga yang tinggal di barak bakau itu mengeluh, dan menumpahkan kekesalannya pada pemerintah daerah. Yang Mungkin menurut mereka tidak adil dalam pembagian rumah bantuan.
Data jumlah penduduk di barak bakou dan jumlah warga yang akan mendapatkan rumah hak bantuan. tersebut Menurut M. N asir 35 thun. Yang telah terpilih menjadi ketua pasilitator di barak tersebut yaitu jumlah barak yang terbagi sampai dengan 28 barak di daerah …..itu. namun. Ia hanya memegang tanggung jawab mulai dari barak 15 s/d 28 yang di serahkan oleh NGO Arab Saudi. Sedangkan barak 1 s/d 14 ada pihak lain yang bertanggung jawab mngawasinya. Jumlah penduduk yang regional hanya 8 kk.dan yang tidak mendapatkan rumah anggaran bantuan dari BRR sejimlah 20 kk. Bantuan rumah yang tidak dapat di pakai oleh warga sejumlah 59 kk. Sejumlah warga yang tidak mendapatkan rumah secar a valit di peroleh 33 kk. Jadi jumlah penduduk orang yang tinggal di barak bakau adalah 117 kk.
“ sebenarnya, semua korban tsunami akan mndapatkan bantuan rumah, namun butuh waktu untuk mengecek kembali data-data korban tersebut. Karena sudh terkoordinator mulai tahun 2006 s/d 2007 untuk barak 1 dan 14 sedangkan barak bakou terkoordinator sampai 2010. Saya selaku penanggung jawab di barak ini, sebelumnya sudah pernah di beri rumah bantuan oleh ibu ida. Namun saya menolaknnya, karena masih memikirkan nasip warga saya yang belum mendapatkan rumah untuk tempat tinggal selayaknya. Aakhirnya sayapun ikut serta pindah ke barak bakou ini dengan istri dan anak saya”. Ujarnya M. Nasir yang hany berjualan untuk menafkahi biaya hidupnya selama tinggal di barak tersebut.
Warga barak bakoupun berharap, agar pemerintah daerah dapat segera mempercepat rumah bantuan yang telah di janjikan untuk para korban tsunami yang belum tersosialisasikan.
ibu ingatlah aku
Ibu Ingatlah Aku
Disini aku duduk seorang diri..
Menatap malam yang penuh arti
Entah apa salah diri ini..
Terus semu, sampai harapan tak bisa di nanti..
Malam ini kujadikan saksi..
Tak seorangpun bisa memahami,,
Bagaimana perasaan dan rinduku padamu wahan ibuku..
Mereka bilang, aku bagai anak tak berarti..
Hidup seorang diri,,tiada yang menasehati..
Aku sanggah kata-kata itu..
Karena aku masih utuh menyayangimu ibu…
Ibu..ingatlah aku..
Ingatlah..anakmu..
Karena aku masih butu kasih-sayang darimu..
Puisi ini kupersembahkan buat ibundaku yang jauh dimata dekat di hati…meskipun komunikasi tak pernah, aku hanya berharap engkau mengingatku dan mendo,akan aku di sini…karena jasamu tak dapat ku balas dengan ilmuku,hanya dapat kupersembahkan do,a dari anakmu yang sedang menuntut ilmu….
Wassalam
Siti aminah
pesan terakhir ayahku
Pesan terakhir ayahku
Ayah…
tak dapat ku lukiskan betapa bahagia hati ini
Dihari ini, aku ingin melihatmu tersenyum
Walau tubuhmu tak dapat memelukku dengan dekap
Tapi, aku melihat air mata kebahagiaan dari wajahmu
Ayah…
kini aku telah lulus sekolah
Aku ingin mewujudkan impian dan cita-citaku
Aku ingin mendaki puncak tantangan
Menerjang batu granit kesulitan
Aku ingin ketempat-tempat yang jauh
Berkelana, menemukan arah masa depanku
Ayah…
Kau selalu mengutamakan pendidikanku
Kau yang mengajarkanku tegar dalam menghadapi hidup
Semangatmu selalu terkenang dalam hatiku
Menumbuhkan kekuatan mendalam untuk mengantikan posisimu
Ayah…
Ku sadar tanganmu tak dapat lagi kau gerakkan
Kakimu tak bisa lagi melangkah
Tubuhmu terbaring di atas tempat tidur
Tapi, aku tak pernah lelah untuk menjagamu
Ayah…
Aku mengerti maksud pikiranmu
Setelah membaca surat Usmu dari kepala sekolahku
Air matamu berlinang membasahi kertas-kertas itu
Kau tak bisa melepaskan kepergianku
Kau ingin aku selalu ada di sampingmu
Ayah…
Aku rela tidak melanjutkan kuliah demimu
Agar aku bisa hidup lebih lama bersamamu
Walau suka dan duka
Kan ku simpan cita-citaku yang ada
Ayah…
Aku melihatmu menangis dari sudut-sudut kamarku
Hati ini sakit melihat tangisanmu
Di saat engkau merangkul tubuhmu karena rasa sakit itu
Aku tahu engkau ingin lepas dari penderitaan ini
Ayah….
Setiap kali aku melihatmu, hatiku ingin menangis
Melihat tubuhmu, matamu, jemari tangan dan kakimu yang begitu dingin
Aku ingin merasakan sakit seperti yang kau rasakan saat itu
Ayah….
Satu hari sebelumnya, Aku masih bisa tertawa dan tersenyum
Tanganku masih mampu menyuapi makanan untukmu,
masih bisa mendekap dan tidur di sampingmu
Ayah….
Tepat jam lima pagi
Engkau pergi dari dunia ini
Kau hembuskan nafas terakhirmu di saat Aku memegang tanganmu
Disaat mu’adzin mengumandangkan adzan
Allah mengambilmu dari dunia yang fana ini
Ayah….
Bagiku kau pergi terlalu cepat
Kau tak bisa melihatku memakai pakaian guru
Seperti yang kau impikan sebelumnya untukku
Ayah….
Satu hari sebelum kepergianmu
Engkau menulis pesan terakhirmu di dalam buku harianku
Kau tulis kata-kata itu dengan linangan airmata
“anakku, ayah akan pergi..
Jagalah adik dan ibumu, do’akan ayah disetiap sujudmu, jadilah wanita sholehah”
Ayah….
Andai kau tahu
Hatiku sangat teriris saat kau ucapkan kata-kata itu
Ya Allah, Engkau Maha Tahu dari apa yang tidak aku ketahui
Engkau Maha Melihat dari apa yang aku sembunyikan
Engkau Maha Pengampun, dari itu ampunilah dosa kedua orang tuaku
Ya Allah, kabulkanlah do’aku
bunuh saja laki-laki jika memang harus perempuan
KARATERISTIK MEDIA INFORMASI (BAHAN PUSTAKA)





