lukisan rrindu

oleh:mas rizal

imanakah menghilang
Diriku sendiri
Hanyut dalam bayangan
Sebuah misteri
Harum tiada wajah
...Mengelilingi aku
Dalam suasana
Yang terharu

Lukisan impianku
Gambaran dimana
Cuaca yang begini
Apakah mahunya

Aku adalah aku
Nyanyi lagu yang rindu
Lemah langkahku mengejarmu

Bila pun engkau menjelma
Disini aku berdiri
Ku menanti
Walau hilang ceritamu
Di hati tetap abadi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DARI HUTAN KE GEDUNG DEWAN

“ Dari Hutan Ke gedung Dewan”

Terik matahari tidak membuatku merasa lelah mencari tahu tentang laki-laki itu, sudah tiga kali aku menghubunginya, tapi ia tak pernah menyempatkan diri untuk bertemu. Tepat hari kamis 25 juni 2009 sekitar jam 12.00 aku coba mengirim pesan untuknya. Beberapa menit kemudian ia menyuruhku datang kesebuah kantor partai SIRA tepat didekat taman sari. Namun, disepanjang perjalanan menuju kekota aku sedikit merasa takut, diatas sepeda motor yang aku naiki, dan sebuah tinta hitam yang menari- nari diatas buku kecil yang berwarna biru ditanganku mencoba untuk merangkai sebuah pertanyaan. aku hadir begitu cepat. Kubuka kembali pesan yang ia kirim, hanya untuk memastikan ketepatan waktu untuk berjumpa dengannya. aku pun harus menunggu setengah jam lagi diliuar kantor yang dipenuhi sepeda motor dan beberapa mobil mewah serta sebuah stiker Partai SIRA yang ditempeli di bagian kaca belakangnya. Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu yang ditarik oleh seorang wanita yang berbadan tinggi dan bertubuh besar dengan mengenakan jilbab coklat yang menutupi dadanya yang keluar dari kantor tersebut. Dengan senyumnya yang ramah, menyuruh aku masuk kedalam tanpa menanyakan maksud dan tujuanku. aku pun hanya membalasnya dengan senyuman dan mengucapkan terima kasih pada wanita itu.

Saat kumelangkah ingin memasuki kantor partai SIRA, tiba-tiba laki-laki itu keluar dari ruang rapatnya. Menjabat tanganku dengan penuh rasa hormat, dengan gayanya yang penuh bijaksana ia langsung memperkenalkan dirinya padaku. ”dawan” nama singkat yang ia sebutkan, Aku agak sedikit gugup, ku coba menghilangkan rasa takut dalam diriku dan berusaha menjadi seorang yang penuh tanggung jawab saat itu.
Setelah duduk dimeja bundaran yang terletak dilantai dua, ia mencoba memastikan bahwa aku seorang wartawan. Kuberikan surat tugas dari sumberpost dan sebuah tipe recorder yang kuletakkan tiga puluh senti meter dari hadapnnya.



”Saya sudah ditempa sejak kecil untuk menghadapi berbagai kesulitan”,ujar laki-laki itu saat aku menanyai tentang kehidupannya dalam memperjuangkan gerakan Aceh Merdeka. Dengan suara yang rendah, sambil merebahkan badannya keatas kursi. dan menatap bunga yang ada di atas meja itu. Pada tahun 1986-1989 dawan pernah berbincang-bincang dengan beberapa petinggi GAM di jakarta. Kemudian dawan kembali pada tahun 1998 ke Kota Aceh. gerakan ini sudah mulai jelas arahnya, dan mulai berkembang dibeberapa wilayah didaerah Aceh ini.

Pada tahun 2001, beberapa anggota GAM sudah mulai berpisah. Masing-masing mempunyai tugas, Faujan Ajimis menjabat sebagai panglima GAM daerah Gayo dan dawan sendiri sebagi juru bicara militer di daerah linge. Dan tugas yang diberikan kepada dawanpun untuk menyampaikan informasi kepada kawan-kawan dilapangan serta mengorganisir masyarakat yang ada diwilayahnya. Dengan adanya dukungan oleh temannya dilapangan, ketika didaerahnya sudah tidak merasa aman, ia akhirnya pergi ke Jakarta dengan menggunakan nama sandi, agar tidak diketahui oleh masyarakat tentang keberadaanya. Dengan tujuan untuk menggali kekuatan kembali. Hanya dengan komunikasi ia dapat menghubungi teman-temanya.

Pada saat ia berada ditengah-tengah hutan Bener-Meriah, ia lari ke Kota Lhoksemawe di daerah Nisam. ia ditampung oleh teman-temannya disana. iapun berada dihutan dan masuk diperdalaman yang sangat jauh dari kota, dan menurut Dawan dalam kondisi berbahaya karena saat itu tidak terdapat sinyal Hp sehingga komunikasi mereka terputus. Dawan pun terus berusaha agar tetap berhati-hati. Dengan mangikuti perjalanan yang ada dihutan nisam, ia berjumpa dengan sejumlah Tim kerjanya. siangpun telah berlalu,malam yang dingin membuat perjalanan mereka terhenti di tengah-tengah hutan. ”Tidurpun tak pernah mengalaskan tikar, hanya berbantal rumput dan terpal. Itupun hanya beberapa jam saja dapat ku nikmati” kenang Dawan. Karena proses pengejaran terhadap mereka terus dilakukan. Dari tempat ketempat ia pergi, hingga kakinya pun terkena duri tak dapat ia rasakan lagi,ia terus berlari sampai batas yang dianggap nyaman baginnya.


Disaat berbagai tantangan yang ia tempuh, laki- laki yang kelahiran di pondok sayur, 15 okteber 1971 itupun merasakan sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya. Pada saat sekelompok orang tertindas atau teraniaya, disitulah timbul suatu keadailan, sama-sama merasakan sebuah penderitaan, tidak memakan sesuap nasi sudah terbiasa bagi dawan dan teman-temannya. Jikapun ada, maka dijadikan sebuah bubur untuk menikmatinya. Itulah suatu keindahan baginya. ia juga menyebutkan hal itu merupakan ”team a work” atau kerja sama tim.

Sudah beberapa bulan dawan berada dihutan Nisam. Akhirnya dawan kembali ke hutan tanoh Gayo, saat itu keinginan bertemu dengan orang tua sudah tidak dapat ia tahan lagi. Iapun mengatakan semua keluhannya kepada atasannya agar ia mendapat izin untuk keluar dari hutan tersebut. Namun, atasannya sama sekali tidak mengabulkan permintaan Dawan. Dengan alasan ia tidak menjamin keselamatan dawan jika menemui orang tuanya. Dan orang tua dawan juga akan menjadi ancaman besar untuk dijadikan bahan pembicaraan didalam masyarakat, karena keluarga dawan bisa terancam keselamatannya.
Arhama Dawan Gayo pun mengurungkan niat untuk menemui keluarganya. Padahal jarak dengan tempat persembunyian hanya satu kilo saja dari kampung tersebut. ”Resiko berperang menahan semua keinginan dan harus bisa menyelamatkan diri dari kondisi apapun.”itulah konsep seorang GAM” tegas atasannya Fauzan Ajimis sebagai panglima GAM saat mengkomando bawahannya.

Pada tanggal 15 Agustus 2006 Dawan ikut serta dalam proses penandatanganan MoU antara pemerintah indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka Yang disaksikan oleh lembaga-lembaga masyarakat, dan tokoh- tokoh terpenting dari berbagi negara.
Setelah penandatanganan perdamaian itu selesai, dawanpun tak pernah patah semangat untuk memperjuangkan nama baik keluarga dan namanya di tengah-tengah masyarakat gayo khusunya di daerah yang ia tinggali.




” Saya tidak mengharapkan apa- apa, tapi saya sudah mendapatkan segalanya”. Tangkas laki- laki itu sambil membaca pesan masuk dari hand phonenya. ”Saya sudah menikmati perdamaian ini sudah bersyukur”katanya lagi dengan menatap kedua bola mataku. Suatu kegembiraan yang mungkin tak bisa dilupakan Saat dawan menjumpai keluarga dan bisa menatap wajah ayah ibunya kembali. Dengan mata yang berbinar-binar ia mengucapkan kata ma’af berulang kali kepada kedua ibu bapakknya. Dengan penuh rasa kesabaran dan ketabahan, Dawanpu mendapatkan kepercayaan dari beberapa teman dan sebahagian anggota masyarakat di daerah pondok sayur agar dawan bisa mencalonkan diri sebagai anggota DPRA di aceh. Namun usahanya belum mencapai target yang diinginkan untuk untuk menduduki kursi Dewan saat itu.

Hal itu tak menjadikan dawan patah semangat. Dengan kendaraan yang beroda empat yang telah dihadiahkan padanya. Ia akan tetap bekerja keras untuk mempersiapkan diri menjadi caleg yang proaktif untuk kedepannya. Karena ia masih memperdulikan rakyat aceh yang menjadi korban konflik.ujarnya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

dari barak ke barak

Tsunami telah berlalu. Kini hanya tinggal sebuah kenangan yang telah menjadi catatan sejarah masa lampau. Sejak tanggal 26 Desember 2004, gelombang tsunami datang menghantam meluluhlan lantahkan kota serambi mekah ini. Menghabiskan ribuan korban dan ratusan harta harta benda telah lenyap. Hal itupun menjadi sejarah yang bagi rakyat aceh. dan kini tengah memasuki tahun 2010. Tahun-tahun sebelumnya akan segera lenyap. Yang tak mungkin berputar kembali, kecuali dengan mngangkat sejarah yang ada.

Kini, banyak para korban tsunami yang mengenang lima tahun yang lalu. Seluruh masyarakat Aceh memanjatkan do’a untuk orang yang telah meninggal dunia. Tepat pada tanggal 26 desember 2009 sebelum memasuki tahun 2010. Semua masjid di seluruh penjuru kota banda Aceh di penuhi dengan orang-orang yang memakai seragam putih. Berzikir bersama ustad Arifin yang di undang dari kota Jakarta itu.namun siapa yang menduga, ternyata masih saja ada korban tsunami yang belum mendapatkan rumah bantuan dari BRR, untuk rakyat Aceh. terlihat masih asa di beberapa daerah pedalaman masyarakat yang mengongsi dan tinggal di barak-barak yang sama sekali tak layak untuk dihuni.
Pasca tsunami, selama lima tahun mereka mnempati barak-barak yang terlihat kumuh, dan sempit itu. bertahan untuk kelangsungan hidup. Terpaksa orang yang tidak mendapatka rumah bantuan tinggal di barak dan di tenda-tenda pengongsian.
“hampir lima tahun saya berada di barak ini. Tak sedikitpun pemerintah Aceh merasa kasihan kepada kami, rasanya ingin segera pergi dari barak yang penuh derita ini, tapi rumah saya masih belum ada”. Ujar ibu hamidah yang berusi lima puluh tahun itu. dan kini telah menjadi janda akibat suaminya telah hilang di tlan ombak. Dengan raut wajah ibu hamidah yang mengaharapkan belai kasihan, tapi ia mencoba tetap bertahan sampai ada orang yang memperdulikan kondisinya.
Sama halnya seperti yang dirasakan ibu suarni 30 thn. Yang duduk masih dua tahun di barak bakau itu, meskipun dikatakan waktunya masih singkat, bila dibandingkan dengan orang-orang yang telah dahulu menduduki barak itu, ia tetap merasa sangat susah dan tidak nyaman bersama anaknya yang masih balita itu.
“pasca tsunami, awalnya saya mengungsi di gedung social, selama dua bulan. Menjaga anak saya yang masih kecil-kecil. Setelah itu, saya pindah lagi ke ulee kareung dan ditempatkan bersama korban tsunami lainnya. Dan pada tahun 2008 baru saya pindah kebarak ini, yang mungkin masih lumayan bila dibandingkan tinggal di tenda-tnda yang hanya mengalaskan tikar”. Kenangnya sembari mengeluarkan air mata di raut wajahnya yang berkulit saoh matang itu.

rumah tangga yang mengibas-ngibas pakaiannya di jemuran setelah selesai mencuci di kamar mandi terbuka untuk umum. air bersih yang warga barak bakau dapatkan berupa sejenis air PAM, berwarna biru besar, dan melambangkan tulisan FROM UNICEF. Tawa merekapun masih terlihat di wajahnya. Sebahagian dari mereka menikmati suasana seperit itu dengan indah.
“ sejauh manapun tingkat kejelian seorang mendata korban tsunami dan korban konflik, juga tidak bisa disalahkan. Karena banyak warga barak bakau yang menggangap dirinya sebagai korban tsunami, padahal hanya ingin mendapt rumah bantuan saja”. Tambah nurdin m. sari sebagai ketua pemuda di barak bakau tersebut.
“ hidup serba susah, jangankan untuk mencari rizki, mndapatkan air bersih untuk membuat kamar mandi sendiri saja sangat susah. Jika milik umum susah warganya untuk di atur”. Hampir beberapa ibu rumah tangga yang tinggal di barak bakau itu mengeluh, dan menumpahkan kekesalannya pada pemerintah daerah. Yang Mungkin menurut mereka tidak adil dalam pembagian rumah bantuan.
Data jumlah penduduk di barak bakou dan jumlah warga yang akan mendapatkan rumah hak bantuan. tersebut Menurut M. N asir 35 thun. Yang telah terpilih menjadi ketua pasilitator di barak tersebut yaitu jumlah barak yang terbagi sampai dengan 28 barak di daerah …..itu. namun. Ia hanya memegang tanggung jawab mulai dari barak 15 s/d 28 yang di serahkan oleh NGO Arab Saudi. Sedangkan barak 1 s/d 14 ada pihak lain yang bertanggung jawab mngawasinya. Jumlah penduduk yang regional hanya 8 kk.dan yang tidak mendapatkan rumah anggaran bantuan dari BRR sejimlah 20 kk. Bantuan rumah yang tidak dapat di pakai oleh warga sejumlah 59 kk. Sejumlah warga yang tidak mendapatkan rumah secar a valit di peroleh 33 kk. Jadi jumlah penduduk orang yang tinggal di barak bakau adalah 117 kk.
“ sebenarnya, semua korban tsunami akan mndapatkan bantuan rumah, namun butuh waktu untuk mengecek kembali data-data korban tersebut. Karena sudh terkoordinator mulai tahun 2006 s/d 2007 untuk barak 1 dan 14 sedangkan barak bakou terkoordinator sampai 2010. Saya selaku penanggung jawab di barak ini, sebelumnya sudah pernah di beri rumah bantuan oleh ibu ida. Namun saya menolaknnya, karena masih memikirkan nasip warga saya yang belum mendapatkan rumah untuk tempat tinggal selayaknya. Aakhirnya sayapun ikut serta pindah ke barak bakou ini dengan istri dan anak saya”. Ujarnya M. Nasir yang hany berjualan untuk menafkahi biaya hidupnya selama tinggal di barak tersebut.
Warga barak bakoupun berharap, agar pemerintah daerah dapat segera mempercepat rumah bantuan yang telah di janjikan untuk para korban tsunami yang belum tersosialisasikan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ibu ingatlah aku

Ibu Ingatlah Aku

Disini aku duduk seorang diri..
Menatap malam yang penuh arti
Entah apa salah diri ini..
Terus semu, sampai harapan tak bisa di nanti..

Malam ini kujadikan saksi..
Tak seorangpun bisa memahami,,
Bagaimana perasaan dan rinduku padamu wahan ibuku..

Mereka bilang, aku bagai anak tak berarti..
Hidup seorang diri,,tiada yang menasehati..
Aku sanggah kata-kata itu..
Karena aku masih utuh menyayangimu ibu…
Ibu..ingatlah aku..
Ingatlah..anakmu..
Karena aku masih butu kasih-sayang darimu..

Puisi ini kupersembahkan buat ibundaku yang jauh dimata dekat di hati…meskipun komunikasi tak pernah, aku hanya berharap engkau mengingatku dan mendo,akan aku di sini…karena jasamu tak dapat ku balas dengan ilmuku,hanya dapat kupersembahkan do,a dari anakmu yang sedang menuntut ilmu….

Wassalam

Siti aminah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

pesan terakhir ayahku

Pesan terakhir ayahku

Ayah…
tak dapat ku lukiskan betapa bahagia hati ini
Dihari ini, aku ingin melihatmu tersenyum
Walau tubuhmu tak dapat memelukku dengan dekap
Tapi, aku melihat air mata kebahagiaan dari wajahmu

Ayah…
kini aku telah lulus sekolah
Aku ingin mewujudkan impian dan cita-citaku
Aku ingin mendaki puncak tantangan
Menerjang batu granit kesulitan
Aku ingin ketempat-tempat yang jauh
Berkelana, menemukan arah masa depanku

Ayah…
Kau selalu mengutamakan pendidikanku
Kau yang mengajarkanku tegar dalam menghadapi hidup
Semangatmu selalu terkenang dalam hatiku
Menumbuhkan kekuatan mendalam untuk mengantikan posisimu

Ayah…
Ku sadar tanganmu tak dapat lagi kau gerakkan
Kakimu tak bisa lagi melangkah
Tubuhmu terbaring di atas tempat tidur
Tapi, aku tak pernah lelah untuk menjagamu

Ayah…
Aku mengerti maksud pikiranmu
Setelah membaca surat Usmu dari kepala sekolahku
Air matamu berlinang membasahi kertas-kertas itu
Kau tak bisa melepaskan kepergianku
Kau ingin aku selalu ada di sampingmu

Ayah…
Aku rela tidak melanjutkan kuliah demimu
Agar aku bisa hidup lebih lama bersamamu
Walau suka dan duka
Kan ku simpan cita-citaku yang ada


Ayah…
Aku melihatmu menangis dari sudut-sudut kamarku
Hati ini sakit melihat tangisanmu
Di saat engkau merangkul tubuhmu karena rasa sakit itu
Aku tahu engkau ingin lepas dari penderitaan ini

Ayah….
Setiap kali aku melihatmu, hatiku ingin menangis
Melihat tubuhmu, matamu, jemari tangan dan kakimu yang begitu dingin
Aku ingin merasakan sakit seperti yang kau rasakan saat itu

Ayah….
Satu hari sebelumnya, Aku masih bisa tertawa dan tersenyum
Tanganku masih mampu menyuapi makanan untukmu,
masih bisa mendekap dan tidur di sampingmu

Ayah….
Tepat jam lima pagi
Engkau pergi dari dunia ini
Kau hembuskan nafas terakhirmu di saat Aku memegang tanganmu
Disaat mu’adzin mengumandangkan adzan
Allah mengambilmu dari dunia yang fana ini

Ayah….
Bagiku kau pergi terlalu cepat
Kau tak bisa melihatku memakai pakaian guru
Seperti yang kau impikan sebelumnya untukku

Ayah….
Satu hari sebelum kepergianmu
Engkau menulis pesan terakhirmu di dalam buku harianku
Kau tulis kata-kata itu dengan linangan airmata
“anakku, ayah akan pergi..
Jagalah adik dan ibumu, do’akan ayah disetiap sujudmu, jadilah wanita sholehah”

Ayah….
Andai kau tahu
Hatiku sangat teriris saat kau ucapkan kata-kata itu
Ya Allah, Engkau Maha Tahu dari apa yang tidak aku ketahui
Engkau Maha Melihat dari apa yang aku sembunyikan
Engkau Maha Pengampun, dari itu ampunilah dosa kedua orang tuaku
Ya Allah, kabulkanlah do’aku

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

bunuh saja laki-laki jika memang harus perempuan

“Bunuh saja laki-laki, jika memang harus perempuan”
Rumah yang berwarna coklat muda, dengan pagar bercat orange. Di teras rumah bagian depan, tertata sebuah bunga anggrek yang berwarna ungu bercampur putih yang bergantung di pohon Valem. Di sampingnya, terlihat satu mobil Avanza berwarna hitam dan satu sepeda Motor di dalam garasi yang sedikit terbuka.
Saat memasuki rumah itu, dinding-dindingnya terlihat bersih dihiasi dengan beberapa jenis foto-foto keluarga, dan lukisan mesjid di negeri Mekkah.
Lantai rumahnya memakai keramik berwarna putih. Di sebelah kanan dari pintu masuk, langsung terlihat sofa berwarna coklat tua.
  Hanya dengan sebuah senyuman, itulah awal sambutannya  ketika aku menghampirinya dari kantor LKBN ANTARA (sebuah kantor berita Nasional Indonesia) menuju desa Lampriet kecamatan Syiah Kuala kota Banda Aceh. Padahal sebelumnya kami tidak saling kenal.
“ Lelisma Sofiyati”, ucapnya sambil menjabat tanganku. Dan mempersilahkan aku duduk di sofa rumahnya. Parasnya berbentuk oval, berkulit putih, dan terlihat sedikit keturunan Mata cina. Sesuai dengan baju yang ia kenai saat itu.
Namanya tak asing lagi bagiku. Ia adalah seorang aktivis perempuan Aceh. Dan juga pernah berkecimpung sebagai ketua Divisi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Aceh mulai dari tahun 2002. Lelisma Sofiyati juga ikut membangun Organisasi BIRO pemberdayaan perempuan sampai tahun 2007.
 Berbagai upaya telah ia lakukan khusus bagi perempuan Aceh semasih menjabat sebagai ketua pemberdayaan perempuan.
Salah-satunya memberikan kontribusi tentang pelatihan kepemimpinan,  memberikan peralatan kerja bagi para petani, dan juga mengajarkan berbagi faham Agama bagi kaum perempuan. Serta kontribisi PPT( pusat pelayana terpadu) yang bertepatan di BayangKara.  “ Semua ini karena adanya kerja sama antar LSM lain, dan kaitannya dengan  BIRO pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak di Aceh” ujarnya.
“ Dulu saya pernah ditawarkan oleh wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar, sebagai perwakilan Perempuan di salah satu partai local Aceh. Namun, saya masih mempertimbangkan tawaran tersebut. Berhalangan saya mempunyai keluarga dan dua anak, tentu harus mendapat persetujuan dari suami saya, tak lama kemudian saya tolak tawaran tersebut. Tak ada izin dari suami saya” tambahnya, sambil menelan seteguk sirup yang di amabil dari atas meja.
Kasusnya adalah sejak pemilu tahun 2009 lalu, hanya 30 persen  perempuan duduk di perlemen .semua itu karena para perempuan yang mempunyai intelektual atau para aktivis perempuan lainnya belum siap untuk menduduki Kursi DPRA. Hal tersebut membuat perempuan menjadi tersudutkan, dengan statement bahwa perempuan bukan untuk memimpin Negara, tapi hanya sebagi pekerja rumah tangga saja.
“ ketika saya bergabung dalam pemberdayaan perempuan Aceh, saya mencoba memperjuangkan nama baik perempuan Aceh, menyangkut permasalahan  gender, saat-saat diskusi mengenai pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, siapa  yang menduga, ada salah satu dari forum mengatakan di dihadapan semua undangan, “bunuh saja laki-laki, jika memang harus perempuan” tegas seorang laki-laki bagian dari dalam forum diskusi terserbut. Para hadirin tertawa. Menggap kata-kata tersebut terlalu Aneh untuk di ucapkan. Jika masih ada laki-laki mengapa harus perempuan?”cerita  Lelisma dengan sedikit terlihat dari raut wajanya yang geram terhadap pernyataan tersebut.

Pasca Rekontruksi Aceh, banyak  masyarakat yang masih hidup susah, terutama para janda korban konflik dan korban tsunami tahun 2004 lalu. Anak-Anak di terlantarkan, Adanya terjadi perebutan Harta warisan, dan banyak lagi yang tidak diketahui di dalam masyarakat. Karena belum ada pendataan khusus bagi para korban konflik, hanya ada sebahagiannya saja.
‘saat saya berada dilapangan Pasca Tsunami, hari itu melakukan kunjungan dalam rangka melihat situasi dan kondisi rumah korban Tsunami di daerah Kota, terlihat satu orang perempuan yang duduk sendirian, kemudian saya menghampirinya, keluarganya telah dibawa gelombang Tsunami, hanya tinggal ia sendiri.
Ia berkata kepada saya, “ untung saya masih hidup, jika sayapun  hanyut di bawa gelombang Tsunami, tentu tak ada lagi yang memdo’akan kami. Sekarang aku bisa mendo’akan keluargaku yang telah pergi”. Itulah cerita dari korban yang saya dapatkan. Rasanya, air mata takkan bisa mengembalikan ke masa lalu”. Kisah Lelisma dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.  
                                                          ***
“ Sebenarnya tak ada larangan bagi perempuan untuk menjabat sebagai pemimpin Negara”. tangkas Yusran Wakil dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dari provinsi kota. “ Tak ada masalah dari urutan No Calon Anggota yang mendaftar sebagai anggota DPRA, pertanyaanya, siap atau tidak perempuan duduk di perlemen?!nyatanya hanya 4 orang perempuan pada pemilu 2009 lalu yang terdaftar di DPRA, sedangkan di kabupaten kota tidak satupun keterwakilan dari perempuan” tegasnya lagi saat aku menanyai tentang perempuan Aceh.
“Secara keseluruhan pemilihan umum dilakukan secara terbuka, bebas, dan rahasia. Apalagi masyarakat Aceh banyak terlihat perempuannya, nah… pada saat pemilihan calon perlemen, mengapa perempuan tidak memilih perempuan? Sebenarnya tidak sama sekali berkaitan dengan permasalahan gender. Toh, perempuan sudah diberikan kesempatan, mengapa tidak mendapatkan suara terbanyak juga?!!”. Kalimat pernyataan dan pertanyaan terus diberikan oleh laki-laki yang berkulit saoh matang itu. Sambil merebahkan badannya di kursi.
Mulai dari sejak awal berdirinya BIRO Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2001 -2008 dan pada tahun 2009 baru dapat terealisasikan. Kemudian sejak di sahkan Qanun No.6 Tentang Pemberdayaan Perempuan dan Qanun No.  tentang perlindungan Anak.
                                                        ***
Esoknya, Aku ingin berkunjung ke Masjid Baiturahman Banda Aceh. Terlihat beberapa mobil patroli yang di naiki beberapa perempuan WH (wilayatul hisbah) berkeliling di seputaran Masjid. Suasana terlihat sepi, aku berteduh di bawah pohon tepat di samping Menara dari sebelah utara. Di hadapanku, ada dua perempuan yang duduk menghadap tepat kearah Masjid tersebut. Dengan memakai seragam dinas berwarna hijau lumut. “ kami hanya mengawasi laki-laki yang tidak pergi shalat jum’at” kata salah seorang dari mereka.
Tampa ada banyak waktu mereka langsung pergi menaiki mobil Dinas Patroli. Menuju kantor WH di Blang Padang.

Tak banyak data yang kudapatkan. Dari petugas WH perempuan tersebut.
“ perempuan juga bisa memimpin, banyak hal yang harus dilakukan oleh perempuan Aceh kedepannya”. Hanya satu kalimat yang dapat ia sampaikan saat itu. Tampa menyebutkan Indentitasnya.
 Banyak lagi perempuan- perempuan Aceh yang menjadi tonggak kehidupan. Saat usai shalat jum’at tepat jam 13:30 Wib. Suasana kota mulai ramai, beberapa pengemis yang biasanya mangkal di halaman Masjid Biturahman tersebut, mulai meramai. Tak lain masih saja banyak perempuan. Yang menjulurkan tangannya kea rah para jama’ah yang sudah keluar.
Mulai dari anak kecil sampai dengan orang tua sekalipun.
“ masih banyak harapan perempuan khususnya di Aceh, untuk menjadi yang lebih baik, apalagi Aceh adalah wilayah yang terkenal dengan syri’at islam, kesempatan selalu ada. Namun, tergantung siapa yang mau mengambil kesempatan tersebut”. Ujar Lukman Nulhakim aktivis kampus IAIN Ar-Raniry itu.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KARATERISTIK MEDIA INFORMASI (BAHAN PUSTAKA)


BAB I
LATAR BELAKANG

a.    Latar belakang masalah
Perkembangan kertas atau dikenal sebagai papyhrus sudah dikenal dalam tiga masa priode. Yaitu pada zaman sebelum mengenal kertas, masa kertas dan masa sesudah ada kertas. Dalam perkembangan berawal pada saat manusia menemukan cara pembuatan kertas dari bahan-bhan tertentu. Seperti, kulit domba,rumput hijau yang dikeringkan, palepah-palepah kayu,dan berbagai jenis lainnya.
Peradaban Mesir Kuno menyumbangkan papyrus sebagai media tulis menulis. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir Kuno pada masa bangsa firaun kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan menyebar ke seantero Eropa, meskipun penggunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas.
Penemuan kertaspun terus terjadi dan semakin berkembang pada abab 751 M, yaitu sampai ke cina, dan dikembangkan sehingga jumlah kertas tercetak sangatlah banyak. Hingga abab pertengahan, kertas terus mennjadi bahan perekonomian masyarakat, dan juga berfungsi sebagai alat tulis menulis,sehinnga masyarakat dapat melihat hasil tulisan dari jumlah kertas yang telah di cetak.
            Saat ini, dunia kertas tak lagi asing ditelinga masyarakat. Karena percetakan semakin luas. Namun, dengan adanya kertas yang dijadikan sebagai media informasi bahan pustaka  menyorotkan masyarakat peka terhadap informasi yang dibutuhkan.


BAB II
KARATERISTIK MEDIA INFORMASI (BAHAN PUSTAKA)

a.      Masa Pra Kertas
Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis banyak hal.
Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Sebelum ditemukan kertas, bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar. Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria, Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada masa lamp’au.
Peradaban Mesir Kuno menyumbangkan papyrus sebagai media tulis menulis. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir Kuno pada masa bangsa firaun kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan menyebar ke seantero Eropa, meskipun penggunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas.
Tercatat dalam sejarah adalah peradaban China yang menyumbangkan kertas bagi Dunia. Adalah Tsai Lun yang menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seantero China pada tahun 101 Masehi. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa China ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia.
Pada akhirnya, teknik pembuatan kertas tersebut jatuh ketangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatankertas kepada orang-orang Arab sehingga dizaman Abbasiyah, muncullah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya, kemudian menyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah Perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia.
Di tahun 1799, seorang Prancis bernama Nicholas Louis Robert menemukan proses untuk membuat lembaran-lembaran kertas dalam satu wire screenyang bergerak, dengan melalui perbaikan-perbaikan alat ini kini dikenalsebagai mesin Fourdrinier. Penemuan mesin silinder oleh John Dickinson di tahun 1809 telah menyebabkan meningkatnya penggunaan mesin Fourdrinier dalam pembuatan kertas-kertas tipis. Tahun 1826, steam cylinder untuk pertama kalinya digunakan dalam pengeringan dan pada tahun 1927 Amerika Serikat mulai menggunakan mesin Fourdrinier.
Peningkatan produksi oleh mesin Fourdrinier dan mesin silinder telahmenyebabkan meningkatnya kebutuhan bahan baku kain bekas yang makin lama makin berkurang. Tahun 1814, Friedrich Gottlob Keller menemukan proses mekanik pembuatan pulp dari kayu, tapi kualitas kertas yang dihasilkan masih rendah. Sekitar tahun 1853-1854, Charles Watt dan Hugh Burgess mengembangkan pembuatan kertas dengan menggunakan proses soda. Tahun 1857, seorang kimiawan dari Amerika bernama Benjamin Chew Tilghman mendapatkan British Patent untuk proses sulfit. Pulp yang dihasilkan dari proses sulfit ini bagus dan siap diputihkan. Proses kraft dihasilkan dari eksperimen dasar oleh Carl Dahl pada tahun 1884 di Danzig. Proses ini biasa disebut proses sulfat, karena Na2SO4 digunakan sebagai make-up kimia untuk sisa larutan pemasak.

Penggunaan kertas meluas di seluruh Cina pada abad ke-2, dan dalam beberapa abad saja Cina sudah sanggup mengekspor kertas ke negara-negara Asia. Lama sekali Cina merahasiakan cara pembikinan kertas ini. Di tahun 751, apa lacur, beberapa tenaga ahli pembikin kertas tertawan oleh orang-orang Arab sehingga dalam tempo singkat kertas sudah diprodusir di Bagdad dan Sarmarkand. Teknik pembikinan kertas menyebar ke seluruh dunia Arab dan baru di abad ke-12 orang-orang Eropa belajar teknik ini. Sesudah itulah pemakaian kertas mulai berkembang luas dan sesudah Gutenberg menemukan mesin cetak modern, kertas menggantikan kedudukan kulit kambing sebagai sarana tulis-menulis di Barat.
b.      Pada masa kertas
            Pada masa kertas media informasi bahan perpustakaan sudah mulai berkembang dibandingkan dengan masa pra kertas. Para pendiri-pendiri besar mengumpulkan bahan kerta yang masih mentah menjadi lebih modern. Dengan menggunakan mesin kincir maka kertas sudah jadi berbentuk warna putih dan coklat muda berbentuk palepah-palepah dari kulit kayu.
            Kertas itu dikumpulkan disebuah gudang perpustakaan umum, dan dikelola menjadi hasil tulisan seperti buku-buku pada saat itu, sehinngga perpustakaan umum pada abab pertengahan ini menjadi sumber bacaan bagi masyarakat uas.
            Setelah selesai fase pembuatan kertas yaitu pada 751 M, Hingga pada tahun 123 H/750 M. yaitu dikenal sebagai peradaban keemasan pada maasa dinasti abbasyiah. Pada masa itu, bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas, setelah gerakan penerjemahan, dumualai dengan tugas menganalisis dan menyebarkan pengetahuan ke negri lainnya.
            Seiring dengan perkembangan berbagai cabang ilmu pengetahuandan uncunya karya tulis para sarjana, berkembang pula produksi kertas yang tersebar luas di seluruh wilayah islam. Hal ini kemudian memberikan dorongan besar tiddak saja bagi gerakan penulis,penerjemahan dan pengajaran, akan tetapi juga berpengaruh pada gerakan pengumpulan naskah-naskah.
            Dengan adanya kertas-kertas, maka perpustakaan umum,khusus,dan perpustakaan pribadi dapat menulis dengan tujuan memperbanyak jumlah koleksi di berbagai perpustakaan. Baik bernuansa agama atau umum. Perpustakaan umu yang sangat terkenal pada masa itu adalah perpustakaan bayt al- Hikmah pada masa kepemimpinan Al-Makmun, seluruh media informasi terdapat di perpustakaan tersebut. Kemudian banyak lagi perpustakaan lainnya. Seperti, perpustakaan di Madrasah Nizawimiyah di Baghdad, yang mempunyai 6000 judul buku.
            Di bawah bangsa abbasiyah,bagdad bersaing dengan konstantinopel sebagai pusat budaya. Berbagai sumber mengungkapkan  bahwa di kota Baghdad terdapat ratusan took buku. Kemudian orang arab berhasil mengetahui rahasia pembuatan kertas.pada abad kedelapan, Baghdad berhail membuat pabrik kertas, paadahal eropa masih berkutat dengan papyrus dan paarchnen. Orang-orang muslim menguasai teknik pembuatan kertas selama hampir 500 tahun sebelum orang-orang eropa mengetahuinya. Teknik pembuatan kertas disebarkan keberbagai penjuru kerajaan. Karena kertas mudah dibuat, jumlahnya banyak, mudah ditulis, maka produksi buku meningkat dan secara tidak langsung perpustakaan mulai tumbuh.
c.       Masa Sesudah Kertas
Masa sesudah kertas banyak di kenal sebagai zaman modern. Dimana, perkebangan dunia kertas sudah mulai membesar keberbagai penjuru dunia,. Khususnya di Negara-negara yang mempunyai kualitas pendidikan lebih tinggi.. Didalam sebuah gedung perpustakaan media informasi sudah mulai berubah dari bentuk manual menjadi ke system digitalisasi. Yaitu berupa non-buku yang juga disebut sebagai bahan audiovisual, media teknologi, dan alat-alat lainnya.

Contoh rekaman suara (pmiringan hitam,radio, dll) ada juga berbentuk video seperti mikroflm,manuskrip dan sebagainya.
Perkembangan media informasi tidak hanya didapatkan didalam sebuah buku. Akan tetapi, banyak user yang memperoleh informasi dari teknologi seperti computer, internet dan melalui e-book (buku elektronik).


KESIMPULAN
Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis banyak hal.
Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Sebelum ditemukan kertas, bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar. Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria, Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada masa lamp’au.
Pada masa kertas media informasi bahan perpustakaan sudah mulai berkembang dibandingkan dengan masa pra kertas. Para pendiri-pendiri besar mengumpulkan bahan kerta yang masih mentah menjadi lebih modern. Dengan menggunakan mesin kincir maka kertas sudah jadi berbentuk warna putih dan coklat muda berbentuk palepah-palepah dari kulit kayu.



 DAFTAR PUSTAKA

Suwito,Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana,2005
Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:GrapindoPersada,2005
Musryfah Sunanto, Sejarah Islam Klasik.Bogor:Kencana,2003
lestarih.wordpress.com
l/http://pustaka.uns,news@option.com
http://www.lenterahati.comserba-serbi-kertas
Sulistiyo Basuki.Pengantar Ilmu Perpustakaan.Jakarta: Universitaas Terbuka, Depdikbud, 1993











  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS